BBM Naik, Sopir Angkot Takut Nganggur

Dishub Samarinda telah menyiapkan diri, terkait rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Antisipasi yang telah dilakukan adalah menaikkan ongkos angkutan kota (angkot), baik darat maupun penyeberangan sungai. Bahkan, dalam rapat bersama instansi terkait dua hari lalu, direncanakan, ongkos angkot naik menjadi Rp 3.500 dari semula Rp 2.500. Sedangkan untuk siswa, ongkosnya naik 50 persen atau menjadi Rp 1.750.

Kepala Dishub Samarinda Sulaiman Sade mengakui, pilihan menaikkan ongkos angkutan harus dilakukan sebagai imbas naiknya harga BBM. Hanya, besaran tarif baru yang akan diberlakukan, akan disesuaikan kenaikan harga BBM. Tarif baru tersebut akan langsung diterapkan, begitu pemerintah memberlakukan kenaikan harga BBM. “Kami belum bisa memastikan besaran ongkos angkutan yang baru, baik angkutan darat ataupun sungai,” ungkapnya.

Walau demikian, Sulaiman tidak yakin kenaikan tarif mampu mendongkrak penghasilan pengusaha jasa angkutan. Sebab, menurutnya, selama ini, pengusaha jasa angkutan telah ditinggalkan pelanggannya. “Kalau tidak dinaikkan, kita didemo. Kalau kita naikkan, masyarakat akan semakin diberatkan. Serba salah juga kalau keadaannya seperti ini,” ujarnya.

Beberapa sopir angkutan kota yang ditemui Kaltim Post mengaku, naiknya harga BBM bukan hanya menyebabkan hilangnya penumpang, tapi juga mengancam mata pencaharian mereka. Rudi misalnya, sopir angkot jurusan Pasar Segiri-Terminal Bukit Pinang mengaku, hanya mengambil satu trip perjalanan dengan penumpang maksimal 15 orang. “Sampai jam ini (sekitar pukul 13.30, Red.), saya belum narik. Penumpang paling banter 15 orang sehari,” keluhnya.

Rudi khawatir penumpang semakin berkurang ketika ongkos dinaikkan. “Dulu sebelum naik, penumpangnya masih ramai. Tapi setelah naik, makin sepi,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan Ladai, sopir angkutan kota jurusan Pasar Segiri-Pampang-Sungai Siring. Selain sepi penumpang, Ladai mengatakan, kemungkinan kehilangan pekerjaan. “Kayak apa, Mas, sekarang saja saya sering nombok. Apalagi, kalau BBM naik, sudah penumpang sepi, setoran tidak ada. Tidak tahu lagi nanti kerja apa kalau jadi sopir tidak menghasilkan lagi,” ujarnya. (*/obi)

Original Link http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Samarinda&id=257250

Average rating
(0 votes)