Agen Terpaksa Langsung Layani Masyarakat

SAMARINDA. Kenaikan harga jual LPG (Liqiud Petroleum Gas atau kerap disebut elpiji) menjadi Rp4.250 per kilogram dari Rp3.000, ternyata tak membuat Pertamina berusaha menjaga agar bahan bakar masyarakat itu, tetap berada di pasaran. Buktinya, sebulan terakhir, elpiji langka di pasaran dan saat ini terus semakin langka.

Bahkan, elpiji tidak lagi dijual di pengecer, seperti yang selama ini dilakukan. Tetapi langsung dijual dari agen dan diteruskan kepada masyarakat. Puluhan warga pun mengeluhkan kondisi ini, karena terpaksa harus membeli elpiji dari agen yang letaknya lebih jauh dari tempat tinggalnya.

Seperti yang dialami Junaidi, warga Jl Cendana Gang 5, yang diketahui sehari-harinya memproduksi roti bandung. Ia mengaku cukup kerepotan dengan kelangkaan elpiji yang terjadi saat ini, sehingga harus membeli langsung ke agen yang berada di Jl Lumba-lumba. Menurutnya itu sangat tidak efisien, apalagi tabung gas elpiji cukup berat, sehingga merepotkan.

"Biasanya kami membeli gas elpiji di warung Jl Cendana, yang merupakan pengecer gas elpiji. Tetapi sudah beberapa hari ini kosong. Padahal kalau tidak ada elpiji kami cukup kerepotan juga, karena membuat roti harus menggunakan kompor gas," kata Junaidi, ditemui Sapos kemarin.

Dari pemantauan Sapos, agen memang tak lagi menjual gas elpiji ke pengecer seperti yang selama ini dilakukan. Tetapi langsung ke masyarakat pengguna gas elpiji. Ini menurut Agus, salah seorang petugas PT Ranu Gas Utama, salah satu agen gas elpiji, untuk menghindari kelangkaan elpiji.

"Kami hanya melayani masyarakat yang membeli gas elpiji, tetapi kalau pengecer untuk sementara tidak dilayani, sampai keadaan normal dulu," kata Agus, terlihat sibuk melayani beberapa orang yang ingin membeli gas elpiji di kantornya, Jl Lumba-lumba.

Menurut Agus, kekosongan gas elpiji memang sudah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Keadaan ini membuat jatah yang biasanya diperoleh perusahaan tempatnya bekerja berkurang drastis. Biasanya, setiap gas elpiji habis, pihaknya bisa langsung mengambil di Balikpapan, tetapi sekarang tidak lagi. Bahkan dijatah, dalam dua hari misalnya hanya diberi 25 sampai 50 tabung elpiji saja.

"Kalau habis ya sudah, berarti menunggu 2 hari lagi untuk mengambilnya. Kami sendiri tidak tahu sampai kapan, tetapi selama belum normal pasti akan begini terus dan kami tak berani melayani pengecer, kuatir terjadi gejolak di masyarakat," jelasnya lagi.

Ini menurutnya juga menghindari terjadinya monopoli atau penimbunan yang dilakukan oleh masyarakat tertentu, agar gas elpiji kosong di pasaran. Benar saja, beberapa mobil pikap yang membawa belasan tabung gas elpiji untuk ditukar dengan yang berisi memang tak dilayani, sehingga kembali lagi.

"Maaf, untuk sementara memang seperti ini, kami hanya melayani permintaan dari rumah tangga, sampai kondisi normal dulu," tuturnya lagi.

Sementara Manajer Wira Penjualan (WP) Depo Pertamina Samarinda Agus Taufik berusaha ditemui Sapos enggan menjawab, terkait kelangkaan elpiji yang terjadi di Samarinda beberapa waktu terakhir. Ia mempersilakan untuk mempertanyakan kepada WP khusus Elpiji yang berada di Balikpapan. Tetapi sampai kemarin belum bisa dikonfirmasi Sapos. (ias)

Original Link http://www.sapos.co.id/berita/index.asp?IDKategori=279&id=80423

Average rating
(0 votes)

Reply

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd><br> <br/> <p> <img>
  • Lines and paragraphs break automatically.
More information about formatting options